POLITEKNIK
TEMPO – Flexing ialah
suatu kebiasaan sesorang yang suka memamerkan apapun di media sosial. Baik itu
berupa harta, barang koleksi, maupun penampilan. Tren ini biasanya dilakukan
dari perilaku anak muda dari generasi Z di media sosial dan kehidupan nyata. Istilah
flexing belakangan ini sering digunakan dalam percakapan di Media
Sosial. Flexing
ini sendiri merupakan Bahasa gaul atau dalam Bahasa
inggris disebut show off yang menjadi populer dan dikenal banyak orang.
Media sosial merupakan tempat yang bisa leluasa kita gunakan untuk membagikan apapun, mulai dari kutipan, foto saat liburan, hingga kehidupan mewah. Hal tersebut terkadang menimbulkan sikap merasa iri dengan kehidupan orang lain.
Flexing memamerkan hedonisme duniawi berupa kekayaan atau kekuasaan dengan tujuan mendapatkan pengakuan kredibilitas dari pengikut media sosial dan teman-teman si pelaku.
Kalimat flexing ini biasanya digunakan untuk konteks yang negatif. Jika dilihat secara harfiah saja, flexing memang seperti hal yang negatif untuk dilakukan karena memiliki sifat menyombongkan atau memamerkan sesuatu. Dilihat dalam kamus Cambridge juga disebutkan bahwa flexing adalah suatu Tindakan untuk menunjukan sesuatu yang dimiliki, tetapi dengan cara yang dianggap tidak menyenangkan.
Dampak negatif flexing adalah Sulit membedakan teman yang tulus atau yang hanya ingin memanfaatkan kekayaan kalian saja, Semakin mengganggu kepribadian dan semakin ingin terus mendapatkan perhatian.
Lantas, bagaimana sih cara memberikan sikap pada perilaku ini?
Cara
Menyikapi Flexing
Hilangkan sikap merasa iri dengan seseorang yang suka pamer kekayaannya. Karena setiap orang memiliki porsi masing-masing untuk menjalani hidup. Kamu juga bisa menerapkan cara berikut untuk menyikapi flexing.