Berita & Artikel

Siti Rizky Anggraeni, S.Tr.M. dan Ayah Ibunya

"Perjalanan Panjang Siti Rizky Anggraeni: Dari Kamar Kos yang Sepi ke Panggung Wisuda yang Penuh Haru"


Oleh : Admin
13/07/2025
Bagikan :

Tak pernah terlintas di benak Siti Rizky Anggraeni bahwa namanya akan menggema di aula wisuda sebagai mahasiswa terbaik dalam wisuda perdana Politeknik Tempo. Mahasiswi Program Studi Manajemen Pemasaran Internasional itu berdiri dengan bangga mengenakan toga, mencatatkan IPK gemilang 3,91—sebuah angka yang menjadi simbol manis dari empat tahun perjuangan panjang, penuh air mata, kesunyian, dan doa-doa dalam diam.

Rizky bukan berasal dari keluarga yang bergelimang fasilitas. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana—sosok ayah, Makmuri, yang menghidupi keluarga dari warung kecil di kampung, dan ibu, Casmirah, seorang ibu rumah tangga penuh kasih. Keduanya bukan lulusan universitas ternama, tetapi nilai-nilai kehidupan yang mereka wariskan jauh lebih dari sekadar ijazah. “Mereka tak pernah menuntut nilai sempurna, tapi selalu mengingatkan: jaga sikap, tanggung jawab, dan jangan pernah lupakan doa,” kenang Rizky dengan mata berkaca.

Titik terendah dalam perjalanannya datang saat menyusun tugas akhir. Gagal dalam seminar proposal membuatnya merasa tertinggal, sendirian, dan sempat kehilangan arah. Namun ia memilih untuk tidak menyerah. Hari-harinya dipenuhi dengan sepi di kamar kos, ditemani layar laptop dan tumpukan buku. “Aku sering lupa makan, bahkan teman kos sampai bingung aku masih ada di kamar atau tidak,” ucapnya, tersenyum pahit.

Sebagai anak rantau dan seorang introvert, Rizky terbiasa menyimpan luka sendiri. Ia jarang bercerita kepada orang tua, hanya mengabari jika ada ujian atau sidang skripsi. Di balik layar kecil ponsel yang ia genggam, seringkali ada tangis pelan yang tak terdengar siapa pun. “Aku sering menangis sendiri… sambil bertanya, kapan ini semua akan berakhir. Tapi dalam hatiku, aku percaya: capek hari ini akan menjadi kebanggaan suatu saat nanti.”

Dan hari itu pun tiba—12 Juli 2025. Saat namanya dipanggil ke atas panggung, Rizky hampir tak bisa menahan air mata. Ia berdiri bukan hanya sebagai lulusan terbaik, tetapi juga sebagai simbol dari keteguhan hati yang tak goyah meski berkali-kali diuji. “Rasanya campur aduk. Semua lelah, semua air mata… ternyata tidak sia-sia,” katanya lirih.

Rizky tak hanya unggul dalam akademik. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat menjadi sekretaris Temptation (Tempo Talent Station), sebuah acara tahunan yang mempertemukan bakat-bakat muda dari seluruh Indonesia. Dari situ, ia belajar tentang tanggung jawab, kerja tim, dan arti dari menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. “Kerja masih lanjut setelah hari H, tapi aku justru tumbuh dari situ,” ujarnya.

Sejak kecil, Rizky juga sudah mengenal dunia wirausaha. Dari sekadar iseng jualan untuk menambah uang jajan saat SD, kini hasrat itu tumbuh menjadi cita-cita besar: membangun bisnisnya sendiri dan melanjutkan studi ke jenjang S2 melalui beasiswa. “Aku memang suka jualan dari dulu. Sekarang, aku ingin serius jadi pengusaha,” tekadnya penuh keyakinan.

Ia tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah menjadi bagian penting dari perjalanannya—orang tua yang selalu mendoakan dalam diam, pemberi beasiswa yang membuatnya bisa kuliah tanpa beban biaya, para dosen yang membimbing dengan sabar, serta teman-teman seperjuangan yang menjadi saksi bahwa perjuangan tidak pernah sendirian. “Dari mereka aku belajar, bukan hanya ilmu, tapi juga bagaimana menjadi manusia yang saling mendukung.”

Kini, gelar sarjana sudah resmi ia sandang. Ia merasa jauh lebih percaya diri dari gadis yang dulu ragu masuk kampus karena latar belakang jurusan IPA-nya. Ia telah membuktikan bahwa tak ada yang tak mungkin jika niat dan kerja keras menyertai setiap langkah. “Dulu aku takut salah jurusan. Tapi sekarang aku sadar, semua proses itu bukan sekadar ilmu, tapi juga pelajaran hidup: komunikasi, etika kerja, dan jadi bagian dari tim.”

Untuk teman-temannya yang masih berada di tengah perjalanan, Rizky menitipkan pesan:
"Kalau hari ini kamu capek, percayalah... Proses yang kamu jalani akan jadi alasan kamu dan orang tuamu tersenyum bangga nanti.”

Dan jika hari ini adalah sebuah permulaan, Rizky tahu persis harus melangkah ke mana:
"Aku akan mulai dengan tujuan yang jelas, rencana yang realistis, dan langkah yang pelan tapi pasti."