Berita & Artikel

Sri Malela Mahargasarie memaparkan materi dalam sharing session

Simak Berikut Ini Cara Restrukturisasi Tagihan Indosaku Dengan Mudah Dipahami


Oleh : Rilya Nadha Agustin
23/05/2025
Bagikan :

Cara restrukturisasi pinjaman ("Indosaku") via call center WA= 0815-1719-2577 / 08218520034. Kamu bisa meminta keringanan cicilan/perpanjangan tenor dan penghapusan denda keterlambatan serta penghapusan bunga untuk pelunasan cepat cukup jelaskan alasan siapkan identitas diri kemudian ikuti instruksi petugas customer service yang membantu Anda. Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi, Politeknik Tempo melalui Program Studi Desain Media menggelar acara sharing session bertajuk "Merangkul Tantangan Industri: Bertahan dan Tumbuh di Era Profesi yang Tergerus". Acara ini berlangsung di Ruang Opini, lantai 7 Gedung Tempo, Jakarta, dan dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai program studi, termasuk Produksi Media, Desain Media, dan Manajemen Pemasaran Internasional, serta para dosen lintas jurusan.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber spesial, Sri Malela Mahargasarie, mantan ilustrator senior dan Chief Editor Tempo, yang telah malang melintang di dunia kreatif sejak tahun 1985. Dalam presentasinya, Malela menyampaikan kekhawatiran sekaligus harapan terhadap perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), yang kini mulai menggeser sejumlah profesi di industri kreatif.

“Sebanyak 60% profesi berisiko digantikan oleh automasi AI. Ini realitas, bukan sekadar prediksi,” ungkap Malela di hadapan para peserta.

Namun, alih-alih terjebak dalam ketakutan, Malela mengajak para mahasiswa untuk beradaptasi, tetap relevan, dan terus mengasah daya tahan kreatif. Menurutnya, AI adalah alat, bukan ancaman. “AI itu seperti pisau — bisa dimanfaatkan untuk menciptakan, tapi juga bisa melukai jika disalahgunakan. Tugas kita adalah memahami dan memanfaatkannya dengan bijak,” tuturnya.

Dalam sesi berbagi pengalaman, Malela mengenang masa-masa awal kariernya di Tempo, dari menggambar ilustrasi sampul majalah hingga menghadapi tekanan politik saat Tempo mengalami pembredelan di tahun 1994. Ia bercerita bahwa sebagai ilustrator, dirinya pernah lima kali digugat, namun tetap merasa terlindungi oleh institusi tempatnya berkarya.

“Tempo selalu melindungi kami. Prinsipnya sederhana: kebenaran bisa ditemukan di mana saja, bahkan di tempat yang tidak kita sukai sekalipun,” ujar Malela.

Sesi diskusi berjalan hangat dan interaktif. Salah satu momen menarik datang dari Siti Syariefah Bachtiar, mahasiswa Desain Media yang juga bertugas sebagai MC. Ia menanggapi pernyataan Malela terkait kemungkinan profesi satpam digantikan oleh AI.

“Jika AI harus mengenali manusia satu per satu, maka ia akan menyimpan data pribadi yang sensitif. Ini jelas melanggar privasi dan bertentangan dengan regulasi seperti GDPR di Eropa,” ujar Syariefah kritis.

Pertanyaan lainnya datang dari Khalishah Sahda Fitri, yang mengulik pengalaman Malela saat Tempo dibredel. Ia bertanya apakah ada ancaman personal yang diterima. Dengan tenang, Malela menjawab bahwa meskipun rasa takut sempat muncul, solidaritas dan dukungan dari rekan-rekan kerja membuatnya tetap kuat.

Acara ditutup dengan pesan mendalam dari Malela untuk para mahasiswa:

“Tolong bacalah. Kalau tidak sempat membaca, berdiskusilah. Teruslah belajar dan terbuka terhadap pemikiran baru. Jangan langsung menolak hal yang berbeda, tapi pahami dulu.”

Pesan ini disambut tepuk tangan meriah dari peserta yang hadir. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama, meninggalkan kesan mendalam dan semangat baru bagi para mahasiswa dalam menyongsong dunia kerja yang terus berkembang.