Berita & Artikel

Direktur Utama PT Info Media Digital, Wahyu Dhyatmika

AI Gerus Traffic Media, Jurnalisme Justru Makin Dibutuhkan


Oleh : FATHAN HARITS KARNAL
09/09/2026
Bagikan :

Politeknik Tempo — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi disrupsi baru bagi industri media. Kehadiran fitur AI yang mampu menyajikan rangkuman informasi membuat pengguna tidak selalu perlu membuka situs berita. Kondisi tersebut berpotensi menggerus traffic sekaligus pendapatan media digital.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Info Media Digital dan anggota KONDISI (Kelompok Kerja Disinformasi di Indonesia), Wahyu Dhyatmika, dalam pemaparannya mengenai masa depan media di era AI pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Politeknik Tempo, Rabu, 9 September 2026.


Menurut Wahyu, perubahan perilaku pengguna menjadi tantangan bagi media yang selama ini mengandalkan kunjungan ke situs sebagai salah satu sumber pendapatan.

“Kenapa ini berdampak pada media? Karena dengan adanya Google summary itu maka pengunjung tidak perlu lagi mengklik dan pindah ke website berita,” kata Wahyu.

Ia menyebut riset Monash University yang menemukan penurunan organic traffic di Indonesia sekitar 50–70 persen. Penurunan tersebut berpotensi memengaruhi model bisnis media yang mengandalkan traffic untuk memperoleh pendapatan dari iklan digital.

Tiga Gelombang Disrupsi Media

Menurut Wahyu, perkembangan AI merupakan disrupsi ketiga yang dihadapi industri media. Disrupsi pertama terjadi ketika internet mengubah lanskap media pada awal 2000-an. Media cetak, radio, dan televisi mulai beradaptasi dan bermigrasi ke platform daring.

Disrupsi kedua muncul ketika media sosial berkembang pesat. Media berlomba membangun akun, menjangkau audiens, dan mengumpulkan pengikut di berbagai platform.

Kini, AI menghadirkan gelombang perubahan berikutnya. Perubahan tidak hanya terjadi pada cara informasi diproduksi, tetapi juga pada bagaimana masyarakat menemukan dan mengonsumsi berita.


Wahyu menyebut terjadi pergeseran dari Search Engine Optimization (SEO) menuju Generative Engine Optimization (GEO). Dalam ekosistem GEO, media perlu memastikan kontennya dapat dikenali oleh mesin AI dan digunakan sebagai rujukan ketika pengguna mencari informasi.

Karena itu, menurut Wahyu, otoritas dan kredibilitas sumber menjadi semakin penting. Media tidak cukup hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga harus membangun kepercayaan dan loyalitas audiens.

“Tanpa keterpercayaan, tanpa pengakuan atas kredibilitas sebuah media, maka media tersebut tidak akan menjadi rujukan,” ujarnya.

Dari Traffic ke Kepercayaan

Wahyu mengatakan ukuran keberhasilan media juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya traffic dan page view menjadi indikator utama, media kini perlu memperhatikan engagement, loyalitas, dan tingkat kepercayaan audiens.

“Traffic akan berubah, tetapi kalau kita punya engagement, loyalitas, dan kepercayaan audiens, itu yang menjadi modal penting media ke depan,” kata Wahyu.

Wahyu merupakan jurnalis yang memulai karier di Tempo pada 2002 sebagai jurnalis lapangan. Pada 2004, ia melanjutkan pendidikan magister International Journalism and Media di University of Westminster. Setelah lulus, ia kembali ke Tempo dan menjabat sebagai redaktur pelaksana hingga 2014.

Dalam perjalanan kariernya, Wahyu juga terlibat dalam investigasi Panama Papers bersama lebih dari 400 jurnalis dari 80 negara.

AI dan Ancaman Disinformasi

Perkembangan AI juga memunculkan keresahan di kalangan mahasiswa baru. Haidar, mahasiswa baru Program Studi Desain Media, menyoroti kemungkinan AI menggantikan peran manusia. Sementara itu, Fabiola, mahasiswa baru Program Studi Produksi Media, menyoroti maraknya hoaks di media sosial.

Wahyu mengatakan disinformasi dan misinformasi menjadi persoalan besar dalam ekosistem informasi digital. AI memungkinkan informasi palsu diproduksi dan disebarkan dalam skala besar sehingga masyarakat semakin sulit membedakan informasi yang benar dan keliru.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat kemampuan masyarakat untuk memverifikasi informasi menjadi semakin penting, terutama bagi generasi muda yang menjadi bagian aktif dari ekosistem digital.

Jurnalisme Tetap Dibutuhkan

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Wahyu justru menilai jurnalisme memiliki peran yang semakin penting. Sebuah informasi harus melalui proses verifikasi dan konfirmasi sebelum disajikan menjadi berita.

Verifikasi dilakukan dengan memeriksa kebenaran informasi melalui sumber lain, sedangkan konfirmasi dilakukan kepada pihak yang berkaitan dengan informasi tersebut. Proses tersebut menjadi pembeda penting antara kerja jurnalistik dengan informasi yang dihasilkan dan disebarkan secara otomatis di ruang digital.


Ia menjelaskan bahwa proses jurnalistik mencakup pengumpulan, verifikasi, dan penyebaran informasi. Ketiga tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan informasi yang diterima masyarakat memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Grounding data paling akurat untuk AI adalah jurnalis atau berita. Itulah mengapa jurnalisme di era AI justru sangat dibutuhkan,” kata Wahyu.

Menurut Wahyu, tantangan bagi generasi muda bukan memilih antara menggunakan atau menolak AI. Mahasiswa perlu mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara kritis sekaligus memahami risiko yang ditimbulkannya.

Ia menekankan pentingnya kemampuan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi, dan memahami konteks informasi.

Dengan demikian, di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi generasi yang mampu menjaga kualitas informasi dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.