Politeknik Tempo — Memperingati semangat kemerdekaan Indonesia, Politeknik Tempo bekerja sama dengan Karang Taruna Kelurahan Sukabumi Selatan menggelar Seminar Nasional Merdeka Digital bertajuk “Meningkatkan Masyarakat yang Adaptif di Era Digital”. Kegiatan berlangsung di Auditorium Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (16/8/2026).
Seminar ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi digital masyarakat agar mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, bertanggung jawab, dan produktif. Tidak hanya membahas ancaman informasi palsu, kegiatan juga mengajak peserta melihat peluang ekonomi dan kreativitas yang lahir dari perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Lurah Sukabumi Selatan, Anjas Umaryadi, S.K.M., membuka kegiatan sekaligus menyambut para peserta. Dalam sambutannya, Anjas menekankan pentingnya penguasaan teknologi agar masyarakat tidak tertinggal menghadapi perubahan zaman.
“Ini adalah upaya yang harus kita lakukan agar tidak tertinggal dan tertindas oleh perkembangan zaman,” ujar Anjas.
Sesi pertama diisi oleh Rachma Tri Widuri, S.Sos., M.Si., Dosen sekaligus Wakil Direktur Bidang Kerja Sama dan Nonakademik Politeknik Tempo. Melalui materi “Saring Sebelum Sharing”, Rachma mengajak peserta memahami pentingnya memilah informasi sebelum menyebarkannya.
Ia menjelaskan perbedaan antara media sosial dan media berita arus utama. Informasi di media berita umumnya melewati proses verifikasi, sedangkan media sosial memungkinkan siapa saja menyebarkan informasi dengan cepat tanpa proses penyaringan yang sama.
Rachma juga mengingatkan peserta mengenai konsekuensi jejak digital yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Salah satu isu yang dibahas adalah sharenting, yakni kebiasaan membagikan informasi, foto, atau aktivitas anak dan keluarga secara berlebihan di ruang digital.
Menurut Rachma, sebelum mengunggah atau membagikan sebuah informasi, masyarakat perlu memastikan bahwa informasi tersebut benar, penting, dan aman. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan membagikan data pribadi yang bersifat sensitif.
Materi tersebut kemudian dilanjutkan dengan praktik cek fakta (fact-checking) bersama tim cek fakta Korste, Darryl Mujiburahman dan Aisha Jingga Kinaya. Peserta diajak mempraktikkan cara memeriksa informasi untuk mengenali dan membendung penyebaran hoaks.
Seminar kemudian bergerak ke topik peluang ekonomi digital. Dr. Ardiansyah, S.Kom., M.M., Kepala Program Studi Manajemen Pemasaran Internasional (MPI) Politeknik Tempo, membahas potensi bisnis digital sekaligus strategi memanfaatkan pemasaran digital.
Menurut Ardiansyah, pemasaran digital memiliki sejumlah keunggulan, antara lain kemampuan menentukan target audiens secara lebih spesifik, mengukur efektivitas promosi, menghemat biaya, menjangkau konsumen lebih luas, serta membuka ruang interaksi dua arah dengan pelanggan.
“Saat ini yang paling gampang adalah berbisnis secara online,” tuturnya.
Ia juga memperkenalkan formula “313” sebagai salah satu cara membangun konsistensi konten, yaitu membuat konten tiga kali sehari secara konsisten selama tiga bulan. Menurutnya, konsistensi harus diikuti dengan pemahaman mengenai karakter audiens dan waktu yang tepat untuk mengunggah konten.
Ardiansyah menambahkan bahwa video menjadi salah satu format konten yang banyak diminati. Dalam membuat materi promosi, pelaku usaha perlu memperhatikan sejumlah unsur, seperti nama merek, nama dan visual produk, program promosi, periode promosi, informasi kontak, permasalahan yang dihadapi audiens, keunggulan produk, serta call to action (CTA).
Tidak berhenti pada teori, peserta langsung mempraktikkan pembuatan flyer bisnis dengan memanfaatkan kecerdasan buatan Google Gemini.
Sementara itu, Dosen Desain Media Politeknik Tempo, Franciscus Carlos, S.Sn., M.Ds., mengajak peserta memahami pemanfaatan AI dalam proses kreatif dan desain visual.
Carlos menekankan bahwa sebuah desain harus berangkat dari dua hal mendasar, yakni pesan yang ingin disampaikan dan target audiens yang dituju.
“Jangan sampai desain yang kita pasarkan ini jelek jadi tidak ada yang mau beli,” tegas Carlos.
Ia menjelaskan alur kerja desain berbasis AI yang terdiri atas dua tahap utama. Tahap awal meliputi penyusunan brief, pengembangan konsep, dan penulisan prompt. Tahap berikutnya mencakup proses kurasi, penyuntingan, hingga menghasilkan desain akhir.
Menurut Carlos, kemampuan menyusun prompt menjadi bagian penting dalam proses kreatif karena menentukan bagaimana AI menerjemahkan gagasan pengguna. Prompt dapat memuat unsur subjek, tujuan, gaya, komposisi, hingga teknik visual.
“Ini berfungsi untuk memberi tahu kepada AI apa yang kita inginkan,” ungkapnya.
Dalam sesi praktik, Carlos memperagakan proses mulai dari menentukan ide, menghasilkan visual awal menggunakan AI, hingga melakukan penyempurnaan melalui aplikasi Canva.
Ia mengingatkan peserta agar tidak menyerahkan seluruh proses kreatif kepada teknologi.
“Jangan jadikan AI sebagai produk akhir,” katanya.
Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting seminar: AI dapat menjadi alat bantu yang kuat, tetapi kreativitas, penilaian, dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.
Seminar ditutup dengan pemberian apresiasi kepada peserta yang aktif mengikuti rangkaian kegiatan dan berhasil menghasilkan karya terbaik dalam sesi praktik.
Politeknik Tempo memberikan beasiswa kepada peserta terpilih sebagai bentuk penghargaan sekaligus dorongan agar masyarakat terus mengembangkan kemampuan di bidang literasi digital, pemasaran digital, dan kreativitas berbasis teknologi.
Melalui Seminar Merdeka Digital, Politeknik Tempo tidak hanya membawa pesan kemerdekaan dalam konteks sejarah, tetapi juga memperluas maknanya ke ruang digital: merdeka untuk mendapatkan informasi yang benar, merdeka untuk berkarya, dan merdeka untuk memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.