Berita & Artikel

Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., saat memberikan orasi ilmiah…

Kepala BRIN Ajak Wisudawan Politeknik Tempo Menjadi Pemimpin Perubahan di Era Artificial Intelligence


Oleh : Admin
01/08/2026
Bagikan :

Politeknik Tempo – Perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif, inovatif, dan mampu memimpin perubahan. Pesan inilah yang disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., saat memberikan orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Senat Wisuda II Program Sarjana Terapan Politeknik Tempo di Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Di hadapan para wisudawan, dosen, orang tua, dan tamu undangan, Arif Satria mengajak lulusan Politeknik Tempo untuk tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan menjadi agen perubahan yang mampu menjawab berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga perubahan iklim.

"Yang sekarang harus kita pikirkan bukan hanya memimpin orang lain, tetapi juga memimpin perubahan dan memimpin masa depan," tegas Arif.

Menurut mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut, kepemimpinan masa depan dibangun di atas empat kemampuan utama, yakni lead self, lead others, lead change, dan lead the future. Keempat aspek tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk tetap relevan di tengah dunia yang berubah semakin cepat.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat global saat ini menghadapi berbagai tantangan besar secara bersamaan, mulai dari perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga kemajuan teknologi yang sering kali melampaui kecepatan penyusunan kebijakan publik. Sebagai contoh, kemunculan transportasi berbasis aplikasi pernah membuat banyak pemerintah di dunia kesulitan menyusun regulasi karena inovasinya berkembang jauh lebih cepat dibandingkan proses penyusunan aturan.

Dalam orasinya, Arif juga menyoroti pesatnya perkembangan Artificial Intelligence yang diprediksi akan mengubah berbagai sektor pekerjaan. Mengutip pandangan Bill Gates, ia menyampaikan bahwa AI berpotensi mengambil alih sejumlah profesi, termasuk dokter maupun guru, dalam beberapa tahun ke depan.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan sisi kemanusiaan yang dimiliki manusia.

"Guru yang biasa hanya menyampaikan. Guru yang baik mampu menjelaskan. Guru yang hebat mampu menginspirasi. AI tidak bisa menyentuh hati manusia. Karena itu pendidikan harus menghasilkan manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki kebijaksanaan," ujarnya.

Karena itu, lulusan perguruan tinggi vokasi dituntut tidak hanya menguasai kompetensi teknis, tetapi juga memiliki karakter, empati, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.

Arif Satria menekankan bahwa masa depan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya dalam berinovasi. Ia mencontohkan bagaimana Tiongkok berhasil mempercepat kemajuan melalui investasi besar di bidang riset dan pengembangan teknologi.

Sebagai ilustrasi, ia mengangkat kisah perusahaan kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD, yang dalam waktu relatif singkat mampu menjadi salah satu pemimpin pasar kendaraan listrik dunia melalui inovasi yang konsisten.

"Yang kecil tidak selamanya kecil, dan yang besar tidak selamanya besar. Semua bergantung pada kreativitas, inovasi, dan kerja keras," katanya.

Menurutnya, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh pola pikir. Ia mengajak seluruh wisudawan membangun growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan seseorang dapat terus berkembang melalui proses belajar, pengalaman, dan kerja keras.

Seseorang yang memiliki growth mindset, lanjutnya, tidak akan melihat kegagalan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan memperbaiki diri.

"Apakah kita akan menjadi pribadi dengan fixed mindset atau growth mindset? Pilihannya ada pada diri kita sendiri," ungkapnya.

Menutup orasi ilmiahnya, Arif mengingatkan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari proses belajar, melainkan awal perjalanan untuk terus mengembangkan diri. Ia mengutip pesan Albert Einstein yang menegaskan pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.

"Once you stop learning, you start dying. Ketika kita berhenti belajar, kita akan mati secara sosial karena tidak lagi mampu mengikuti perubahan," tuturnya.