Politeknik Tempo – Suasana
khidmat menyelimuti Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Sabtu
(1/8/2026), ketika satu per satu lulusan Politeknik Tempo memasuki ruang Sidang
Terbuka Senat. Diiringi alunan lagu Rayuan Pulau Kelapa, prosesi Wisuda
II Politeknik Tempo menjadi penanda lahirnya generasi baru lulusan vokasi yang
siap berkarya di tengah perubahan dunia yang semakin dinamis.
Mengusung tema "Kreatif,
Mandiri, Menuju Indonesia Emas", Politeknik Tempo mengukuhkan 25 Sarjana
Terapan dari tiga program studi, yaitu Desain Media, Manajemen Pemasaran
Internasional, dan Produksi Media. Bagi para wisudawan, prosesi ini bukan
sekadar seremoni akademik, melainkan titik awal perjalanan menuju dunia
profesional.
Menariknya, sekitar 80
persen lulusan telah memperoleh pekerjaan bahkan sebelum resmi diwisuda, sebuah
capaian yang mencerminkan tingginya relevansi pendidikan vokasi Politeknik
Tempo dengan kebutuhan industri.
Direktur Politeknik
Tempo, Shalfi Andri, dalam pidatonya menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis
akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus
bertumbuh.
"Tema wisuda
tahun ini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan sejarah. Indonesia
membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga kreatif; tidak hanya
terampil, tetapi juga adaptif," ujarnya.
Menurut Shalfi, dunia
kerja saat ini bergerak sangat cepat seiring pesatnya perkembangan artificial
intelligence (AI), transformasi digital, dan ekonomi kreatif. Karena itu,
lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat,
beradaptasi terhadap perubahan, serta mampu menghadirkan solusi bagi
masyarakat.
Ia juga mengingatkan
bahwa setiap mahasiswa datang ke Politeknik Tempo dengan latar belakang,
kemampuan, dan impian yang berbeda. Namun, pada hari wisuda mereka berdiri
sejajar dengan semangat yang sama: memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa.
Acara kemudian semakin
semarak dengan penampilan tari kontemporer dari UKM TeNar, sebelum memasuki
rangkaian sambutan dari para tamu undangan.
Mewakili Kepala
LLDIKTI Wilayah III, Tri Munanto menyampaikan apresiasi atas konsistensi
Politeknik Tempo dalam menghasilkan lulusan vokasi yang siap memasuki dunia
kerja.
Sementara itu, Kepala
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, menyampaikan
orasi ilmiah bertajuk kepemimpinan di era perubahan. Dalam paparannya, ia
memperkenalkan empat fondasi kepemimpinan masa depan, yakni lead the future,
lead change, lead others, dan lead self.
Mantan Rektor Institut
Pertanian Bogor (IPB) tersebut menjelaskan bahwa perubahan teknologi kini
berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sektor lainnya. Perkembangan
kendaraan listrik hingga kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia bekerja
dan berinteraksi.
Meski demikian,
menurut Arif, kecerdasan buatan tidak akan sepenuhnya menggantikan manusia.
"Guru yang mampu
membangun empati dan dokter yang mampu menghadirkan sentuhan kemanusiaan tidak
akan tergantikan oleh AI," ujarnya.
Ia juga mengajak para
lulusan untuk terus mengembangkan growth mindset, menjaga integritas, dan tidak
pernah berhenti belajar.
"Apakah kita akan
memilih fixed mindset atau growth mindset? Bangsa yang ingin kita bangun adalah
bangsa yang terus belajar, terus mencoba, dan tidak takut menghadapi
perubahan."
Memasuki prosesi inti,
satu per satu wisudawan dipanggil ke hadapan senat untuk menerima ijazah dan
menjalani pemindahan tali toga sebagai simbol resmi kelulusan.
Pada kesempatan
tersebut, Politeknik Tempo juga memberikan penghargaan kepada tiga wisudawan
terbaik, yaitu Maya Syafirah Haryanti (Program Studi Desain Media), Laila
Rahmatillah (Program Studi Manajemen Pemasaran Internasional), dan Ariadne
Khatarina Moniaga (Program Studi Produksi Media). Ketiganya dinilai
berprestasi, baik dari sisi akademik maupun kontribusi selama menjalani
pendidikan.
Suasana haru terasa
ketika perwakilan wisudawan, Princess Michelle Geraldine Manik, menyampaikan Catatan
Tepi Wisudawan. Dalam pidatonya, ia mengajak seluruh lulusan memberikan
penghormatan kepada orang tua yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan
mereka.
"Di balik toga
yang kami kenakan hari ini, ada doa yang tidak pernah putus dipanjatkan setiap
malam dan pengorbanan yang mungkin tidak pernah sepenuhnya kami sadari."
Ucapan tersebut
disambut tepuk tangan panjang dari seluruh hadirin, sementara banyak orang tua
tampak tak kuasa menahan haru.
Rangkaian Wisuda II
Politeknik Tempo ditutup dengan penyerahan simbolis jaket Ikatan Alumni
Politeknik Tempo dari alumni Muhammad Syifa kepada perwakilan wisudawan Richard
Kannedy. Prosesi ini menjadi simbol estafet perjalanan dari dunia kampus menuju
jejaring alumni yang akan terus mendukung pengembangan karier para lulusan.
Melalui
penyelenggaraan Wisuda II ini, Politeknik Tempo kembali menegaskan komitmennya
sebagai perguruan tinggi vokasi yang menghasilkan lulusan tidak hanya unggul
secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi profesional, kreativitas,
kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi tantangan industri di era
transformasi digital menuju Indonesia Emas 2045.