Politeknik Tempo – Sebuah ide sederhana yang lahir dari rasa
"gabut" justru mengantarkan mahasiswa Politeknik Tempo meraih
prestasi nasional. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Netra berhasil membawa pulang Juara
3 Kategori Lensa Kompetisi Mahasiswa pada Jakarta Youth Film Festival
(JYFF) 2026 melalui film pendek berjudul TRANS/AKSI. Penghargaan
tersebut diumumkan pada malam puncak JYFF yang berlangsung di Istora
Senayan, Jakarta, Minggu (5/7).
Prestasi ini terasa semakin istimewa karena TRANS/AKSI mampu bersaing dengan karya-karya terbaik dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia (UI). Bagi UKM Netra, kemenangan ini menjadi bukti bahwa kreativitas, kerja sama, dan keberanian untuk mencoba mampu mengalahkan keterbatasan pengalaman.
Berangkat dari Realitas
Kota Jakarta
Film berdurasi 15 menit ini mengangkat persoalan sosial yang masih kerap
terjadi di ibu kota, yakni peredaran uang palsu. Melalui tokoh utama bernama Dirman,
seorang perantau yang terjebak dalam jaringan pengedar uang palsu demi bertahan
hidup di Jakarta, TRANS/AKSI mengajak penonton melihat sisi lain kehidupan
metropolitan yang penuh tantangan.
Penulis naskah, Fajar Adyanata Putra Mirza, menjelaskan bahwa
cerita tersebut lahir dari pengamatannya terhadap realitas yang ada di sekitar
masyarakat.
"Ide ceritanya berasal dari kehidupan sehari-hari. Di balik
gemerlap Jakarta, masih banyak persoalan kriminalitas, salah satunya peredaran
uang palsu."
Tidak hanya menyajikan konflik yang dekat dengan kehidupan masyarakat,
film ini juga membawa pesan edukatif. Tim produksi memasukkan kampanye Cinta,
Bangga, dan Paham Rupiah melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang)
sebagai bentuk edukasi mengenai cara mengenali keaslian uang Rupiah.
Sementara itu, sutradara Thoriq Aliefi Nugroho menambahkan bahwa
film ini juga mengajak masyarakat untuk mulai beralih ke sistem pembayaran
digital seperti QRIS sebagai alternatif transaksi yang lebih aman.
Dari Rasa Bosan Menjadi
Karya Membanggakan
Di balik pencapaian tersebut tersimpan cerita yang cukup unik. Produser
film, Zikrul Ziko, mengungkapkan bahwa keputusan mengikuti JYFF justru
muncul setelah seluruh program kerja tahunan UKM Netra hampir selesai
dilaksanakan.
"Awalnya kami merasa sudah menyelesaikan hampir semua program
kerja. Daripada tidak ada kegiatan, akhirnya muncul ide untuk mencoba mengikuti
kompetisi film," ujarnya sambil tersenyum.
Keputusan spontan itu kemudian berkembang menjadi proyek serius. Meski
sebagian besar anggota tim belum memiliki pengalaman panjang di dunia
perfilman, mereka sepakat menjadikan kompetisi ini sebagai ruang belajar
sekaligus pembuktian bahwa mahasiswa mampu menghasilkan karya yang layak
diapresiasi.
Proses kreatif dimulai dari pematangan premis selama tiga hari, kemudian
dilanjutkan dengan penulisan naskah selama sekitar satu minggu hingga akhirnya
memasuki tahap produksi.
Syuting dengan Suasana
Layaknya Nongkrong
Keterbatasan anggaran dan waktu tidak membuat semangat tim surut. Justru
suasana produksi dibuat senyaman mungkin agar seluruh kru tetap menikmati
setiap prosesnya.
Pengambilan gambar dilakukan pada malam hari di lingkungan kampus dengan
konsep kerja yang santai namun tetap produktif.
"Suasananya seperti nongkrong, hanya saja sambil membuat film. Kami
ingin semua kru merasa nyaman, saling mendukung, dan tidak ada tekanan,"
kata Ziko.
Pendekatan tersebut terbukti mampu menciptakan kekompakan selama proses
produksi. Bagi Thoriq, yang menjalani pengalaman pertamanya sebagai sutradara,
dukungan seluruh anggota tim menjadi faktor penting dalam menghadapi berbagai
tantangan teknis di lapangan.
Bukti Bahwa Kesempatan
Harus Diperjuangkan
Keberhasilan meraih penghargaan di JYFF 2026 menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi seluruh anggota UKM Netra. Lebih dari sekadar membawa pulang piala, kemenangan ini memberikan keyakinan bahwa keterbatasan pengalaman bukan alasan untuk mengurungkan mimpi.
"Banyak pelajaran yang kami dapat. Jangan merasa paling tahu,
jangan juga pesimis. Kalau ada kesempatan, ambil dan coba. Siapa tahu justru
itu yang mengubah semuanya," ungkap Ziko.
Semangat yang sama juga dirasakan oleh Thoriq dan Adya. Setelah
keberhasilan TRANS/AKSI, keduanya berkomitmen untuk terus berkarya di dunia
perfilman. Thoriq ingin mengeksplorasi berbagai genre dan gaya penyutradaraan
baru, sementara Adya telah menyiapkan beberapa konsep cerita yang akan
dikembangkan menjadi proyek film berikutnya.
Prestasi UKM Netra membuktikan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari fasilitas yang serba lengkap ataupun pengalaman yang panjang. Terkadang, keberhasilan justru berawal dari keberanian untuk mencoba, semangat belajar bersama, dan tekad untuk tidak melewatkan setiap peluang yang datang. Dari rasa "gabut", lahirlah sebuah karya yang mengantarkan nama Politeknik Tempo berdiri di panggung kemenangan nasional.
UKM NETRA merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Politeknik Tempo yang menjadi wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa di bidang perfilman, fotografi, videografi, serta produksi konten kreatif. Melalui berbagai proyek kolaboratif dan keikutsertaan dalam festival maupun kompetisi, UKM NETRA mendorong mahasiswa menghasilkan karya yang kreatif, inovatif, dan berdampak bagi masyarakat.