Politeknik Tempo — Mahasiswa Politeknik Tempo turut menghadiri Indonesia Digital Conference (IDC) 2025 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di The Hub Epicentrum, Kuningan, Jakarta, pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Tahun ini, AMSI kembali mengangkat tema besar “Sovereign AI: Menuju Kemandirian Digital”. Sejak pertama kali digelar pada 2019, IDC telah menjadi forum strategis bagi insan media, akademisi, regulator, dan pelaku industri digital untuk merumuskan arah kedaulatan teknologi serta masa depan ekosistem media di Indonesia.
Sesi pertama mengangkat tema “Identifikasi dan Mitigasi Artificial Intelligence” dengan menghadirkan Wijaya Kusumawardhana (Staf Ahli Menkominfo RI) dan Dahlan Dani (Ketua Komisi Digital & Sustainability Dewan Pers) sebagai narasumber.
Keduanya menegaskan urgensi tata kelola AI yang berprinsip human-centric, di mana teknologi harus berpihak pada nilai kemanusiaan, transparan, dan adil. “AI harus trustworthy, beroperasi di bawah regulasi yang jelas, dan bebas dari bias algoritma,” ujar Wijaya.
Para pembicara juga menyoroti empat pilar penting pengembangan ekosistem AI nasional: penggunaan data aktual, proses pelatihan yang tepat, audit sistem, serta pengembangan Explainable AI. Dahlan menambahkan, penerapan etika AI harus melindungi publik dari risiko halusinasi data, pelanggaran hak cipta, hingga potensi penyalahgunaan teknologi.
Diskusi berlanjut pada topik “The Role of Influencers in Shaping Narratives in the Public Sphere” yang menghadirkan Wenseslaus Manggut (CCO KLY), Helena Rea (Head of Project BBC Media Action Indonesia), Rosarita Niken Widiastuti (Anggota Dewan Pers), dan Wahyu Aji (CEO Good News from Indonesia).
Para pembicara menyoroti munculnya fenomena “homeless media” — media tanpa institusi formal yang berkembang di platform digital seperti blog dan media sosial. Media semacam ini dinilai mampu menjangkau audiens secara cepat dan personal, namun menghadapi tantangan besar terkait kredibilitas dan etika pemberitaan. “Jurnalis harus menjadi influencer yang kredibel. Media sosial tidak boleh menjauhkan kita dari prinsip dasar jurnalistik — cover both sides dan cover multiside,” tegas Wenseslaus Manggut.
Sesi terakhir bertajuk “Strengthening New Media – From Editorial Integrity to Organizational Viability” menghadirkan Suwarjono (CEO PT Arkadia Digital Media Tbk), Upi Asmaradhana (CEO Kabar Group Indonesia), dan Citra Dyah Prastuti (Pemimpin Redaksi KBR Media).
Diskusi menyoroti pertumbuhan pesat new media berbiaya rendah dengan kemampuan adaptif tinggi, namun kerap mengandalkan sumber berita dari media arus utama tanpa liputan langsung. “Etika jurnalistik dan tanggung jawab publik tetap harus dijaga, bahkan oleh media nonprofesional,” ujar Citra Dyah.
Para narasumber juga menekankan pentingnya kolaborasi antara media baru dan media arus utama guna menjaga kemerdekaan pers, kualitas demokrasi, dan hak asasi manusia. Tantangan seperti disrupsi AI, penurunan trafik media, serta efisiensi anggaran pemerintah disebut sebagai faktor yang mengancam keberlanjutan ekosistem media digital. Meski begitu, new media dipandang sebagai agen perubahan yang dapat memperkuat jurnalisme melalui inovasi dan kolaborasi.
Sebagai penutup, AMSI menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Hukumonline sebagai bentuk kolaborasi strategis untuk memperkuat literasi digital dan regulasi media siber.
Ketua AMSI, Wahyu Dhyatmika menegaskan, IDC 2025 bukan sekadar forum diskusi, melainkan langkah konkret menuju kemandirian digital Indonesia. “Kami ingin AMSI menjadi rumah bersama bagi para pelaku new media dan inovator digital untuk berkolaborasi, bukan berkompetisi,” ujarnya.
Bagi mahasiswa Politeknik Tempo, keikutsertaan dalam IDC 2025 menjadi pengalaman berharga untuk memahami arah kebijakan digital nasional serta peran strategis media dalam menjaga kedaulatan informasi di tengah revolusi teknologi berbasis AI.