Bali, 11 Oktober 2025 — Dari Pulau Dewata, suara perubahan pendidikan
vokasi Indonesia menggema. Melalui Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-IV yang
diselenggarakan di Politeknik Internasional Bali (PIB) College, Perkumpulan
Politeknik Swasta (PELITA) Indonesia secara resmi meluncurkan “Deklarasi Bali”,
sebuah manifesto nasional untuk memperkuat posisi, kualitas, dan kesetaraan
pendidikan tinggi vokasi di Indonesia.
Deklarasi ini menjadi puncak dari empat hari kegiatan Rakernas yang
dihadiri oleh ratusan pimpinan politeknik swasta dari seluruh Indonesia,
perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Komisi X DPR
RI, serta mitra industri.
Dalam naskah resmi Deklarasi Bali, PELITA menegaskan empat komitmen
utama:
Deklarasi ini menjadi simbol solidaritas dan kebangkitan politeknik
swasta yang selama ini berjuang di tengah tantangan regulasi, pembiayaan, dan
pengakuan yang belum setara.
“Deklarasi Bali bukan sekadar pernyataan sikap, tetapi sebuah tekad
bersama untuk menata ulang masa depan pendidikan vokasi Indonesia,” ujar Akhwanul
Akhmal, S.P., M.Si., Ketua Umum PELITA Indonesia.
“Kami percaya, dengan semangat kolaborasi dan keberanian untuk berubah,
politeknik swasta dapat menjadi pilar utama dalam membangun SDM unggul dan
kompetitif di era digital.”
Deklarasi Bali juga menjadi momentum simbolik bagi dunia pendidikan
tinggi vokasi. Untuk pertama kalinya, seluruh politeknik swasta secara terbuka
menyatakan keinginan kolektif agar sistem pendidikan vokasi di Indonesia diakui
sejajar dengan pendidikan akademik.
Menurut I Nyoman Parta, anggota Komisi X DPR RI yang turut hadir dalam
penutupan Rakernas, aspirasi yang disampaikan PELITA merupakan langkah
progresif dan patut didukung oleh negara.
“Vokasi harus mendapatkan ruang yang sama dalam pembangunan pendidikan
nasional. Kami di DPR siap mengawal agar aspirasi ini menjadi kebijakan yang
konkret,” tegas Nyoman Parta di hadapan peserta Rakernas.
Melalui Deklarasi Bali, PELITA berharap dapat membangun ekosistem
pendidikan vokasi yang kuat, mandiri, dan sejajar secara kelembagaan dengan
perguruan tinggi akademik. Langkah ini juga diharapkan membuka peluang kerja
sama internasional, pengembangan riset terapan, serta peningkatan sertifikasi
kompetensi bagi dosen dan mahasiswa vokasi.
Selain itu, PELITA juga mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan
regulasi yang memungkinkan perubahan status politeknik menjadi universitas
terapan, sebagaimana telah diterapkan di berbagai negara maju seperti Jerman,
Swiss, dan Australia.
Deklarasi Bali menjadi simbol bahwa vokasi bukan pendidikan kelas dua,
melainkan garda terdepan dalam mencetak sumber daya manusia terampil yang
dibutuhkan Indonesia untuk bersaing di era globalisasi dan revolusi industri
5.0.
Sebagaimana ditulis dalam penutup naskah deklarasi:
“Dari Bali, kami suarakan perubahan. Pendidikan vokasi adalah kekuatan
bangsa. Bersama kita wujudkan Indonesia Emas melalui vokasi yang unggul,
setara, dan berdaya saing dunia.”