Tak
pernah terlintas di benak Siti Rizky Anggraeni bahwa namanya akan menggema di
aula wisuda sebagai mahasiswa terbaik dalam wisuda perdana
Politeknik Tempo. Mahasiswi Program Studi Manajemen Pemasaran Internasional itu
berdiri dengan bangga mengenakan toga, mencatatkan IPK gemilang 3,91—sebuah
angka yang menjadi simbol manis dari empat tahun perjuangan panjang, penuh air
mata, kesunyian, dan doa-doa dalam diam.
Rizky bukan berasal dari keluarga yang
bergelimang fasilitas. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana—sosok
ayah, Makmuri, yang menghidupi keluarga dari warung kecil di kampung, dan ibu,
Casmirah, seorang ibu rumah tangga penuh kasih. Keduanya bukan lulusan
universitas ternama, tetapi nilai-nilai kehidupan yang mereka wariskan jauh
lebih dari sekadar ijazah. “Mereka tak pernah menuntut nilai sempurna, tapi
selalu mengingatkan: jaga sikap, tanggung jawab, dan jangan pernah lupakan
doa,” kenang Rizky dengan mata berkaca.
Titik terendah dalam perjalanannya
datang saat menyusun tugas akhir. Gagal dalam seminar proposal membuatnya
merasa tertinggal, sendirian, dan sempat kehilangan arah. Namun ia memilih
untuk tidak menyerah. Hari-harinya dipenuhi dengan sepi di kamar kos, ditemani
layar laptop dan tumpukan buku. “Aku sering lupa makan, bahkan teman kos sampai
bingung aku masih ada di kamar atau tidak,” ucapnya, tersenyum pahit.
Sebagai anak rantau dan seorang
introvert, Rizky terbiasa menyimpan luka sendiri. Ia jarang bercerita kepada
orang tua, hanya mengabari jika ada ujian atau sidang skripsi. Di balik layar
kecil ponsel yang ia genggam, seringkali ada tangis pelan yang tak terdengar
siapa pun. “Aku sering menangis sendiri… sambil bertanya, kapan ini semua akan
berakhir. Tapi dalam hatiku, aku percaya: capek hari ini akan menjadi
kebanggaan suatu saat nanti.”
Dan hari itu pun tiba—12 Juli 2025. Saat
namanya dipanggil ke atas panggung, Rizky hampir tak bisa menahan air mata. Ia
berdiri bukan hanya sebagai lulusan terbaik, tetapi juga sebagai simbol dari
keteguhan hati yang tak goyah meski berkali-kali diuji. “Rasanya campur aduk.
Semua lelah, semua air mata… ternyata tidak sia-sia,” katanya lirih.
Rizky tak hanya unggul dalam akademik.
Ia juga aktif dalam berbagai organisasi. Salah satu pengalaman paling berkesan
adalah saat menjadi sekretaris Temptation (Tempo Talent Station),
sebuah acara tahunan yang mempertemukan bakat-bakat muda dari seluruh
Indonesia. Dari situ, ia belajar tentang tanggung jawab, kerja tim, dan arti
dari menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. “Kerja
masih lanjut setelah hari H, tapi aku justru tumbuh dari situ,” ujarnya.
Sejak kecil, Rizky juga sudah mengenal
dunia wirausaha. Dari sekadar iseng jualan untuk menambah uang jajan saat SD,
kini hasrat itu tumbuh menjadi cita-cita besar: membangun bisnisnya sendiri dan
melanjutkan studi ke jenjang S2 melalui beasiswa. “Aku memang suka jualan dari
dulu. Sekarang, aku ingin serius jadi pengusaha,” tekadnya penuh keyakinan.
Ia tak lupa mengucapkan terima kasih
kepada mereka yang telah menjadi bagian penting dari perjalanannya—orang tua
yang selalu mendoakan dalam diam, pemberi beasiswa yang membuatnya bisa kuliah
tanpa beban biaya, para dosen yang membimbing dengan sabar, serta teman-teman
seperjuangan yang menjadi saksi bahwa perjuangan tidak pernah sendirian. “Dari
mereka aku belajar, bukan hanya ilmu, tapi juga bagaimana menjadi manusia yang
saling mendukung.”
Kini, gelar sarjana sudah resmi ia
sandang. Ia merasa jauh lebih percaya diri dari gadis yang dulu ragu masuk
kampus karena latar belakang jurusan IPA-nya. Ia telah membuktikan bahwa tak
ada yang tak mungkin jika niat dan kerja keras menyertai setiap langkah. “Dulu
aku takut salah jurusan. Tapi sekarang aku sadar, semua proses itu bukan
sekadar ilmu, tapi juga pelajaran hidup: komunikasi, etika kerja, dan jadi
bagian dari tim.”
Untuk teman-temannya yang masih berada
di tengah perjalanan, Rizky menitipkan pesan:
"Kalau
hari ini kamu capek, percayalah... Proses yang kamu jalani akan jadi alasan
kamu dan orang tuamu tersenyum bangga nanti.”
Dan jika hari ini adalah sebuah
permulaan, Rizky tahu persis harus melangkah ke mana:
"Aku
akan mulai dengan tujuan yang jelas, rencana yang realistis, dan langkah yang
pelan tapi pasti."