Berita & Artikel

Peserta dan narasumber berfoto bersama seusai kuliah umum bertajuk Vision…

Program Studi Desain Media Gelar Kuliah Umum: Wrap Up! Kreativitas dari Sudut Pandang Sutradara


Oleh : Admin
26/06/2025
Bagikan :

Politeknik Tempo — Program Studi Desain Media Politeknik Tempo menggelar kuliah umum bertema “Vision + Communication”, menghadirkan sutradara sekaligus pendiri rumah produksi Katawarna Film, Diaz Hernawan, sebagai pembicara utama. Acara ini berlangsung pada hari kamis 26 Juni 2025 di Ruang Opini, lantai 7 Politeknik Tempo, dan dihadiri oleh mahasiswa semester 3 dan 5 dari Program Studi Desain Media serta Produksi Media.

Kuliah umum ini menjadi momen inspiratif dan reflektif, terutama bagi para calon kreator muda yang tengah meniti karier di industri media dan film. Dalam paparannya, Diaz Hernawan membagikan perjalanan awal kariernya yang penuh dedikasi — dimulai dari ikut serta dalam proses syuting demi memahami langsung seluk-beluk teknis produksi film.

“Pengalaman langsung adalah guru terbaik,” ujar Diaz. Ia mengisahkan bagaimana dirinya mempelajari beragam pendekatan produksi dengan mengamati perbedaan gaya kerja antara kru lokal dan kru luar negeri. Dari sana, ia menyadari pentingnya memperluas referensi dan wawasan, tidak hanya untuk memperkaya perspektif kreatif, tetapi juga untuk membangun standar kerja yang profesional dan efektif.

Kini, Diaz telah terlibat dalam berbagai proyek komersial, baik dengan agensi lokal maupun internasional. Ia menekankan bahwa peran seorang sutradara tidak hanya sebatas mengatur visual atau teknis, tetapi juga mencakup penguatan visi, efektivitas komunikasi tim, dan penciptaan dampak emosional yang kuat dalam setiap karya.

Dalam diskusinya, Diaz juga menyoroti dinamika perubahan di industri media, termasuk munculnya profesi baru seperti content creator dan pergeseran pola produksi akibat perkembangan teknologi digital. Hal ini berdampak langsung pada struktur pembiayaan, metode distribusi, hingga cara menyampaikan gagasan ke publik.

Menurut Diaz, seorang sutradara masa kini harus adaptif terhadap perubahan, namun tetap teguh menjaga arah dan pesan inti dari karyanya. “Kreativitas tidak boleh kehilangan kompas. Visi adalah jangkar dalam arus yang berubah cepat,” ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, Jea Amalia — mahasiswa dari Program Studi Produksi Media — mengajukan pertanyaan krusial mengenai perbedaan antara skrip awal dan hasil akhir produksi. “Kalau sampai inti cerita berubah, bagaimana cara menyikapinya?” tanyanya.

Diaz menjawab dengan lugas bahwa setiap perubahan harus dievaluasi dengan jeli. Bila perubahan justru memperkuat pesan, maka itu bisa menjadi bagian dari evolusi kreatif. Namun, bila mengaburkan pesan utama, koreksi adalah langkah wajib. “Kuncinya adalah komunikasi, pemahaman visi, dan kesadaran akan tujuan artistik,” tegasnya.

Menutup kuliah umum, Diaz membagikan dua kutipan yang menjadi pegangan dalam proses kreatifnya:

“Everything that has been said under the sky has been said. The problem is not everybody’s listening.”
dan
“Good artists copy, great artists steal.”

Kutipan ini menjadi pengingat bahwa orisinalitas bukan sekadar menciptakan hal baru, tetapi tentang memahami, menyerap, dan menghidupkan kembali gagasan dengan perspektif yang unik.