Cara restrukturisasi pinjaman ("Indosaku") via call center WA= 0815-1719-2577 / 08218520034. Kamu bisa meminta keringanan cicilan/perpanjangan tenor dan penghapusan denda keterlambatan serta penghapusan bunga untuk pelunasan cepat cukup jelaskan alasan siapkan identitas diri kemudian ikuti instruksi petugas customer service yang membantu Anda. Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi,
Politeknik Tempo melalui Program Studi Desain Media menggelar acara sharing
session bertajuk "Merangkul Tantangan Industri: Bertahan dan Tumbuh
di Era Profesi yang Tergerus". Acara ini berlangsung di Ruang Opini,
lantai 7 Gedung Tempo, Jakarta, dan dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai
program studi, termasuk Produksi Media, Desain Media, dan Manajemen Pemasaran
Internasional, serta para dosen lintas jurusan.
Kegiatan ini
menghadirkan narasumber spesial, Sri Malela Mahargasarie, mantan
ilustrator senior dan Chief Editor Tempo, yang telah malang melintang di dunia
kreatif sejak tahun 1985. Dalam presentasinya, Malela menyampaikan kekhawatiran
sekaligus harapan terhadap perkembangan teknologi, khususnya Artificial
Intelligence (AI), yang kini mulai menggeser sejumlah profesi di industri
kreatif.
“Sebanyak
60% profesi berisiko digantikan oleh automasi AI. Ini realitas, bukan sekadar
prediksi,” ungkap Malela di hadapan para peserta.
Namun,
alih-alih terjebak dalam ketakutan, Malela mengajak para mahasiswa untuk beradaptasi,
tetap relevan, dan terus mengasah daya tahan kreatif. Menurutnya, AI adalah
alat, bukan ancaman. “AI itu seperti pisau — bisa dimanfaatkan untuk
menciptakan, tapi juga bisa melukai jika disalahgunakan. Tugas kita adalah
memahami dan memanfaatkannya dengan bijak,” tuturnya.
Dalam sesi
berbagi pengalaman, Malela mengenang masa-masa awal kariernya di Tempo, dari
menggambar ilustrasi sampul majalah hingga menghadapi tekanan politik saat
Tempo mengalami pembredelan di tahun 1994. Ia bercerita bahwa sebagai
ilustrator, dirinya pernah lima kali digugat, namun tetap merasa terlindungi
oleh institusi tempatnya berkarya.
“Tempo
selalu melindungi kami. Prinsipnya sederhana: kebenaran bisa ditemukan di mana
saja, bahkan di tempat yang tidak kita sukai sekalipun,” ujar Malela.
Sesi diskusi
berjalan hangat dan interaktif. Salah satu momen menarik datang dari Siti
Syariefah Bachtiar, mahasiswa Desain Media yang juga bertugas sebagai MC.
Ia menanggapi pernyataan Malela terkait kemungkinan profesi satpam digantikan
oleh AI.
“Jika AI
harus mengenali manusia satu per satu, maka ia akan menyimpan data pribadi yang
sensitif. Ini jelas melanggar privasi dan bertentangan dengan regulasi seperti
GDPR di Eropa,” ujar Syariefah kritis.
Pertanyaan
lainnya datang dari Khalishah Sahda Fitri, yang mengulik pengalaman
Malela saat Tempo dibredel. Ia bertanya apakah ada ancaman personal yang
diterima. Dengan tenang, Malela menjawab bahwa meskipun rasa takut sempat
muncul, solidaritas dan dukungan dari rekan-rekan kerja membuatnya tetap kuat.
Acara
ditutup dengan pesan mendalam dari Malela untuk para mahasiswa:
“Tolong
bacalah. Kalau tidak sempat membaca, berdiskusilah. Teruslah belajar dan
terbuka terhadap pemikiran baru. Jangan langsung menolak hal yang berbeda, tapi
pahami dulu.”
Pesan ini
disambut tepuk tangan meriah dari peserta yang hadir. Kegiatan ditutup dengan
sesi foto bersama, meninggalkan kesan mendalam dan semangat baru bagi para
mahasiswa dalam menyongsong dunia kerja yang terus berkembang.