Berita & Artikel

Sumber Foto : Pinterest

Mengendalikan Interpretasi dan Persepsi – FILOSOFI TERAS


Oleh : Deswina Anfarizi
02/06/2023
Bagikan :

Rasanya manusia normal akan setuju bahwa semua situasi buruk tidak mengenakkan. Dari yang sekadar menyebalkan, yang mau bikin marah, sampai yang bisa membuat kita putus asa. Epictetus berkata bahwa sesungguhnya semua peristiwa tersebut bukanlah penyebab kita sedih, stes, galau, dan lain – lain. Menurut Stoisisme, peristiwa – peristiwa tersebut adalah netral (tidak baik, tidak buruk). Namun, persepsi, anggapan, dan pertimbanganlah yang membuat itu semuanya menjadi “buruk”. Hah?gimana?

Dalam Filosofi Teras, dipisahkan antara apa yang bisa ditangkap oleh indra kita (impression) dan interpretasi/makna atas apa yang kita lihat dan dengar (representation). Kita sering gagal memisahkan keduanya. Kita seketika memberikan intrepetasi/penilaian (value judgement) dan pemaknaan atas sebuah peristiwa yang dialami. Peristiwa itu sendiri hampir selalu netral, tetapi kemudian menjadi “positif” atau “negatif” karena interpretasi dan makna yang kita berikan.

Langkah – Langkah yang bisa diambil saat kita mulai merasakan emosi negatif (mau mengamuk, sedih, baper, frustasi, putus asa, dan lain – lain) dapat disingkat menjadi S-T-A-R (Stop, Think & Asses, Respond) :

1.       STOP (berhenti). Begitu kita merasakan emosi negatif, secara sadar kita harus berhenti dahulu. Jangan terus larut dalam perasan tersebut.

2.       THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudah mengehentikan proses emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir. Memaksakan diri untuk berpikir secara rasional saja sudah mampu mengalihkan kita dari keblablasan untuk menuruti emosi. Kemudian, mulailah menilai (assess), apakah perasaan say aini bisa dibenarkan atau tidak? apakah kita telah memisahkan fakta objektif dari interpretasi/value judgement kita sendiri? Bertanya pada diri sendiri, “Apakah emosi saya ini terjadi karena sesuatu yang di dalam kendali saya atau di luar kendali saya?.

3.       RESPOND. Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dalam mengamati situasi, barulah kita memikirkan respons apa yang akan kita berikan. Karena pemilihan respons tersebut datang sesudah kita memikirkannya situasi baik – baik, diharapkan ucapan dan tindakan respons ini adalah hasil penggunaan nalar/rasioa yang sebaik – baiknya, dengan prinsip bijak, adil (fair), menahan diri (tidak terbawa perasaan/emosi) dan berani (courage).