Rasanya manusia normal akan setuju
bahwa semua situasi buruk tidak mengenakkan. Dari yang sekadar menyebalkan,
yang mau bikin marah, sampai yang bisa membuat kita putus asa. Epictetus berkata
bahwa sesungguhnya semua peristiwa tersebut bukanlah penyebab kita sedih, stes,
galau, dan lain – lain. Menurut Stoisisme, peristiwa – peristiwa tersebut
adalah netral (tidak baik, tidak buruk). Namun, persepsi, anggapan, dan
pertimbanganlah yang membuat itu semuanya menjadi “buruk”. Hah?gimana?
Dalam Filosofi Teras, dipisahkan
antara apa yang bisa ditangkap oleh indra kita (impression) dan interpretasi/makna
atas apa yang kita lihat dan dengar (representation). Kita sering
gagal memisahkan keduanya. Kita seketika memberikan intrepetasi/penilaian (value
judgement) dan pemaknaan atas sebuah peristiwa yang dialami. Peristiwa itu
sendiri hampir selalu netral, tetapi kemudian menjadi “positif” atau “negatif”
karena interpretasi dan makna yang kita berikan.
Langkah – Langkah yang bisa diambil
saat kita mulai merasakan emosi negatif (mau mengamuk, sedih, baper, frustasi,
putus asa, dan lain – lain) dapat disingkat menjadi S-T-A-R (Stop, Think
& Asses, Respond) :
1. STOP
(berhenti). Begitu kita merasakan emosi negatif, secara sadar kita
harus berhenti dahulu. Jangan terus larut dalam perasan tersebut.
2. THINK
& ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudah mengehentikan proses
emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir. Memaksakan diri untuk berpikir secara
rasional saja sudah mampu mengalihkan kita dari keblablasan untuk menuruti
emosi. Kemudian, mulailah menilai (assess), apakah perasaan say aini bisa
dibenarkan atau tidak? apakah kita telah memisahkan fakta objektif dari interpretasi/value
judgement kita sendiri? Bertanya pada diri sendiri, “Apakah emosi saya ini
terjadi karena sesuatu yang di dalam kendali saya atau di luar kendali saya?.
3. RESPOND.
Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dalam mengamati
situasi, barulah kita memikirkan respons apa yang akan kita berikan. Karena pemilihan
respons tersebut datang sesudah kita memikirkannya situasi baik – baik,
diharapkan ucapan dan tindakan respons ini adalah hasil penggunaan nalar/rasioa
yang sebaik – baiknya, dengan prinsip bijak, adil (fair), menahan diri (tidak
terbawa perasaan/emosi) dan berani (courage).