Berita & Artikel

Sumber Foto : Kompas.com

Analisis Alasan Tutupnya Toko Buku Gunung Agung


Oleh : Deswina Anfarizi
24/05/2023
Bagikan :

Politeknik Tempo - UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Menurut Arys, pandemi Covid-19 mengubah perilaku masyarakat yang awalnya membeli buku langsung di toko menjadi memesan buku secara daring. Hal tersebut memengaruhi pemasaran dan penjualan buku yang secara langsung berdampak pada keuntungan serta kelangsungan usaha. Sementara itu, biaya operasional seperti pegawai dan pemeliharaan terus meningkat.

Selain disebabkan pandemi, perkembangan dunia digital juga menggerus pasar buku Indonesia. Hal ini membuat dunia perbukuan perlu bersaing dengan pembuat konten yang lebih menarik, seperti audio dan video. Minat baca masyarakat Indonesia yang rendah membuat konten-konten tersebut lebih digemari.

Perkembangan dunia digital menciptakan e-book yang harganya lebih murah dibandingkan dengan buku cetak. Selain itu, e-book dapat dengan mudah dibawa kemana – mana dibandingkan dengan buku cetak. 

Selain karena alasan diatas, toko buku Gunung Agung akan ditutup karena maraknya buku bajakan yang dilakukan oleh oknum – oknum. 

Menurut survei yang penulis lakukan, buku cetak memiliki daya tarik tersendiri. Ayu merupakan salah satu yang memilih buku cetak, begini katanya “Saya cepat hafal kalau cetak dan sama bisa disobek untuk dijadikan pajangan.” 

Kesimpulannya adalah meskipun minat baca digital terus berkembang, toko buku cetak tetap memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan pembaca yang mencari pengalaman fisik dan nilai-nilai yang terkait dengan buku cetak.