POLITEKNIK TEMPO-Nama Haruki Murakami sudah tidak asing lagi di
dunia novel kontemporer internasional. Penulis asal Jepang itu terkenal akan
genre surealisme magis yang dekat dengan kehidupan masa kini. Gaya penceritaan
ulungnya juga menjadi daya tarik tersendiri ketika memulai membaca karyanya.
Kini sudah banyak karya Haruki Murakami yang
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, baik bahasa Inggris maupun bahasa
Indonesia. Untuk mengakses bukunya pun mudah karena sudah banyak tersedia di
toko-toko buku atau perpustakaan. Mulai dari novel sampai antologi cerpennya
yang terkenal, tidak ada alasan untuk tidak mulai penasaran dan mencoba
membacanya untuk merasakan kemasyhurannya sendiri. Dengan banyaknya pilihan
novel Haruki Murakami untuk dibaca, mungkin akan sulit untuk menentukan harus
mulai membaca darimana untuk memahami dunia Haruki Murakami sebagai pemula.
Jika Anda berniat untuk mulai membaca novel Haruki
Murakami dan bingung untuk memulainya dari mana, novelnya yang berjudul After
Dark cocok sebagai permulaan. Novel After Dark diterbitkan pada
tahun 2004 di Jepang, sementara terjemahan bahasa Inggrisnya diterbitkan pada
tahun 2007. Novel ini memiliki tebal 208 halaman dan termasuk ringan untuk
dibaca dibandingkan karya-karya Haruki Murakami yang lain. Selain itu, atmosfer
surealisme yang tidak terlalu berat pada novel ini membuat After Dark
cocok sebagai perkenalan kepada dunia asing Haruki Murakami tanpa membuat
kepala pening.
After Dark berpusat pada tokoh utama, Mari Asai, seorang
gadis yang melarikan diri dari rumahnya untuk menghindari kakaknya, Eri Asai,
yang telah tertidur dalam waktu yang sangat lama. Dalam pelariannya itu Mari
bertemu dengan orang-orang lainnya yang memiliki satu kesamaan: terjaga ketika
orang-orang lain tertidur. Novel ini berhasil mengekspresikan berbagai
karakteristik dari individu-individu yang terisolasi dari sekelilingnya ketika
malam hari tiba di kota Tokyo. Dengan setting cerita yang hanya terjadi
selama kurang lebih tujuh jam, semua peristiwa difusi dalam waktu semalaman,
menghubungkan individu-individu tersebut kepada kebetulan-kebetulan yang tidak
mereka sadari. Pada setiap bab dalam novel ini juga diberikan jam yang
menunjukkan waktu ketika peristiwa di dalam bab itu terjadi. Bab demi bab
menunjukkan keterhubungan dari segala peristiwa secara bertahap hingga pagi
hari.
Hal yang membuat novel ini patut dibaca selain
karena ketebalannya, penceritaan dengan pemilihan kata yang memikat membuat
pembaca betah untuk terus membacanya. Dengan sudut pandang orang pertama juga,
Haruki Murakami memperlakukan pembaca sebagai penonton secara interaktif seolah
pembaca ikut ke dalam peristiwa yang terjadi dalam ceritanya.
“Our point of view, as an imaginary
camera, picks up and lingers over things like this in the room. We are
invisible, anonymous intruders. We look. We listen. We note odors. But we are
not physically present in the place, and we leave behind no traces. We follow
the same rules, so to speak, as orthodox time travelers. We observe but we do
not intervene.”
Sebagai pembaca kita tidak bisa mengusik karakter
di dalamnya meskipun kita berada dalam posisi maha tahu. Pembaca hanya
menyaksikan serangkaian kejadian yang mempertemukan karakter-karakter di
dalamnya dalam diam. Sudut pandang ini juga memaksakan pembaca untuk berada
dalam posisi netral ketika diperlihatkan pada sesuatu yang jahat karena
kedudukan pembaca hanya sebagai pengamat yang tidak menghakimi dalam novel ini.
Model penceritaannya yang menggugah seperti ini
tidak banyak ditemukan pada novelnya yang lain. Model ini membuat pembaca betah
menjelajahi kota metropolitan Tokyo di malam hari hingga fajar. Novel After
Dark juga cocok dibaca dalam sekali duduk, terlebih ketika malam tiba dan
Anda berniat untuk berpetualang dalam ceritanya hingga pagi sesuai dengan jam
yang tertera pada setiap babnya.
Novel After Dark sangat menggugah dengan
pesan dan deskripsinya yang memperlihatkan betapa dekatnya kita dengan sisi
jahat. Bahwa hidup kita bersisian di antara yang baik dan yang jahat melalui
sekat yang sangat tipis. Tak jarang juga sisi jahat itu bersinggungan dengan
orang-orang baik di sisi yang lain tanpa diundang. Pengalaman membaca After
Dark membuat kita sadar meskipun kita mengetahui sisi jahat itu, kita harus
menerimanya di dunia ini sebagaimana dua sisi dari koin yang sama.
Penulisan novel After Dark yang kaya akan
elemen-elemen khas Haruki Murakami serta halaman buku yang tidak terlalu tebal
membuat novel ini terasa tepat sebagai bacaan permulaan sebelum menjelajahi
dunia surealisme Haruki Murakami yang lain. Sesudah membaca novel After Dark
rasanya tidak akan kaget lagi dengan segala keanehan yang terdapat pada novel best
seller Haruki Murakami seperti 1Q84 ataupun The Wind Up Bird
Chronicle.