Politeknik Tempo — Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dr. Eric Hermawan, mengajak mahasiswa baru Politeknik Tempo memahami jati diri bangsa sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital. Ia memperkenalkan konsep “Source Code Kebangsaan” yang terdiri atas empat konsensus dasar, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Eric menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Politeknik Tempo hari kedua, Selasa, 8 September 2026. Ia membawakan materi bertajuk “Membangun Generasi Berkarakter: Jati Diri Bangsa & Bela Negara.”
Dalam pemaparannya, Eric membahas tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan ekosistem digital yang semakin terhubung.
“Saat ini kita tumbuh pada ekosistem yang saling terhubung,” ujar legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur tersebut.
Menurut Eric, perkembangan ekosistem digital membuat generasi muda memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Ia menyebut jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 229,4 juta orang, dengan 25,54 persen di antaranya merupakan Generasi Z.
“Ini menunjukkan kalau Gen Z merupakan penggerak bangsa Indonesia,” kata Eric.
Eric mengatakan generasi muda perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai jati diri bangsa agar tidak mudah kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi. Menurutnya, pemahaman tersebut dapat menjadi landasan dalam bersikap, mengambil keputusan, dan berinteraksi di ruang digital.
Ia kemudian memperkenalkan konsep “Source Code Kebangsaan” atau empat konsensus dasar yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempatnya adalah Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Source Code” tersebut, menurut Eric, penting dipahami mahasiswa bukan sekadar sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai nilai yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Presidium Ikatan Doktor Ilmu Manajemen (Ikadim) itu juga menyoroti pentingnya bela negara bagi mahasiswa. Menurutnya, bela negara tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi dapat dilakukan melalui perilaku sederhana, termasuk dalam menggunakan media digital.
Salah satu bentuknya adalah mencegah penyebaran informasi palsu atau hoaks.
“Mahasiswa dapat membela negaranya dengan memutus penyebaran hoaks,” ujar Eric.
Ia menilai mahasiswa memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas informasi di tengah masyarakat digital. Dengan kemampuan literasi dan berpikir kritis, mahasiswa dapat membantu membedakan informasi yang benar dan keliru serta tidak ikut memperluas penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Eric juga mengapresiasi pelaksanaan PKKMB Politeknik Tempo yang berlangsung secara tatap muka. Menurutnya, interaksi langsung memberikan kesempatan kepada mahasiswa baru untuk saling mengenal dan membangun relasi sejak awal memasuki lingkungan perguruan tinggi.
“Alhamdulillah PKKMB di Politeknik Tempo ini bagus, banyak kampus yang online. Makanya kalau langsung bisa saling kenal,” kata Bendahara Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama tersebut.
Dalam sesi diskusi, Eric mengajak mahasiswa baru tidak berhenti pada pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong mahasiswa menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab dan menjadikan pengetahuan serta kemampuan yang dimiliki sebagai sarana untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita harus jadi orang besar, agar suara kita didengar. Gunakan suara kita untuk membantu orang kecil,” kata Eric menyemangati mahasiswa.
Pesan tersebut menjadi penekanan penting dalam pembekalan PKKMB Politeknik Tempo, bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya berarti mengejar pencapaian akademik, tetapi juga membangun karakter, memahami identitas kebangsaan, serta mengambil peran positif di tengah masyarakat dan ruang digital.