Politeknik Tempo — Wakil Direktur Bidang Non akademik Politeknik Tempo, Rachma Tri Widuri, mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara etis tanpa mengesampingkan orisinalitas dan kemampuan berpikir mandiri.
Rachma mengatakan Politeknik Tempo tidak melarang mahasiswa menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan tugas. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus tetap disertai ide, analisis, dan pemikiran mahasiswa sendiri.
“Silakan menggunakan AI, tetapi harus tetap menjaga orisinalitas,” kata Rachma yang juga merupakan dosen mata kuliah Big Data Analytics dalam sesi pemaparan materi dan diskusi mahasiswa baru Politeknik Tempo, Selasa, 8 September 2026.
Dalam pemaparannya, Rachma juga menyampaikan data riset Kementerian Komunikasi dan Digital yang menunjukkan 55 persen content creator di Indonesia telah menggunakan AI. Sementara itu, penggunaan AI untuk mengerjakan tugas disebut mencapai 78 persen, termasuk dalam sampel mahasiswa Politeknik Tempo.
Menurut Rachma, kemudahan teknologi AI tidak boleh membuat mahasiswa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Ia menilai ketergantungan tersebut menjadi persoalan baru dalam memahami praktik plagiarisme di era kecerdasan buatan.
“Kalau dulu itu plagiarisme, kita menjiplak karya orang lain. Kalau sekarang, yang disebut plagiarisme itu kalau dia menyerahkan proses berpikirnya ke AI,” ujarnya.
Rachma juga mengingatkan mahasiswa untuk selalu memeriksa kembali informasi dan referensi yang dihasilkan AI. Menurutnya, jawaban AI tidak selalu dapat langsung digunakan tanpa melalui proses verifikasi.
“Saya pernah meminta AI memberikan 10 referensi, tetapi hanya tiga atau empat yang benar-benar dapat digunakan. Jadi teman-teman perlu dicek lagi. Jangan asal percaya. Jangan asal copy paste,” katanya.
Ia menekankan bahwa mahasiswa tetap perlu percaya diri terhadap kemampuan mereka sendiri ketika menggunakan AI. Mahasiswa juga perlu memiliki gagasan awal sebelum memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengembangkan tugas maupun karya kreatif.
Bagi Rachma, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu yang memperkuat proses berpikir dan kreativitas manusia, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia.
“Aku berpikir, maka aku ada. Cogito ergo sum,” ujar Rachma, mengutip pemikiran filsuf René Descartes.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam pembekalan mahasiswa baru Politeknik Tempo mengenai penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI dalam pendidikan dan industri, mahasiswa didorong untuk tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga tetap menjaga integritas akademik, daya kritis, kreativitas, dan orisinalitas dalam menghasilkan karya.