Berita & Artikel

Pembicara Seminar Nasional

Etika dan Independensi Jurnalisme di Bawah Bayang-bayang Algoritma


Oleh : Oktavia Zeta Anjani
12/02/2026
Bagikan :

Politeknik Tempo - Kamis 12 Februari 2026 Politeknik Tempo menggelar seminar nasional bertajuk Memaknai Jurnalisme di Era Content Creator. Mengambil tempat di Aula HB Jassin Perpustakaan Jakarta, seminar ini mempertemukan praktisi media massa, akademisi jurnalistik/ komunikasi dan content creator.

 

Diskusi yang terdiri dari tiga panel ini membahas tantangan, etika jurnalistik, disrupsi teknologi, hingga model bisnis media di tengah dominasi platform global. Dalam sambutannya, Direktur Politeknik Tempo, Shalfi Andri, menyatakan bahwa diskusi ini dilaksanakan antara lain karena keresahan yang dialami berbagai perguruan tinggi, terhadap perkembangan ilmu jurnalistik yang tergerus disrupsi digital.

 

Direktur Tempo Inti Media, Budi Setyarso, dalam pidato kuncinya, menyoroti perubahan lanskap media akibat perkembangan teknologi dan pergeseran perilaku audiens. Menurut dia, publik kini cenderung memilih konten ringan atau opini tanpa verifikasi. Padahal, media arus utama tetap dituntut menghadirkan fakta dan analisis mendalam.  “Standar jurnalisme tetap: verifikasi, transparansi sumber, dan independensi,” ujar Budi.

 

Ia juga menyinggung dominasi platform global dalam pendapatan iklan digital nasional yang membuat media konvensional kesulitan menopang jurnalisme berkualitas. Meski demikian, perubahan zaman, kata dia, tidak bisa dilawan. Media harus berinovasi tanpa meninggalkan prinsip dasar.

 

Dalam panel pertama bertajuk Etika dan Independensi di Era Algoritma”, diskusi mengerucut pada kaburnya batas antara jurnalis dan kreator konten di ruang digital. Panel ini menghadirkan Budi Setyarso, Budiman Tanuredjo (Pemimpin Redaksi Harian Kompas 2014–2018), dan Prof. Dr. Rajab Ritonga dari Universitas Gunadarma, dengan moderator Dheayu Jihan.  Budiman Tanuredjo menilai etika jurnalistik harus dimulai dari kesadaran personal sebelum menjadi pedoman institusi. “Etika harus dimulai dari diri sendiri,” ujarnya. Ia menegaskan, jurnalisme bukan untuk menghibur kekuasaan, melainkan memantau dan mengawasi kekuasaan. ”Jurnalisme ajaran PK Ojong dan Jakob Oetama yang saya emban adalah jurnalisme yang menghibur yang papa, dan mengingatkan penguasa.”

 

Menurut Budiman, jurnalisme kini mengalami “perziarahan lintas batas”, dari institusi ke personal. Ia mencontohkan praktik jurnalistik yang kini bisa dilakukan secara mandiri melalui platform digital, tanpa kehilangan esensinya. “Jurnalisme tak akan mati, tapi akan berubah wujud,” kata dia.

 

Sementara itu, Prof. Rajab Ritonga melihat disrupsi digital sebagai persoalan global. Internet membentuk “desa global” yang menghapus batas ruang dan waktu, namun sekaligus mengguncang industri media. Ia mengingatkan bahwa jurnalisme memiliki standar etik yang jelas, berbeda dengan konten kreator yang tidak terikat aturan serupa. “Jangan sampai jurnalisme hanya hadir seperti ambulans—dibutuhkan saat krisis saja,” ujar Rajab. Ia menekankan pentingnya pendidikan dan literasi agar generasi muda, termasuk calon kreator konten, memahami kode etik dan dampak dari konten yang mereka produksi.

 

Dalam sesi tanya jawab, peserta menyoroti fenomena kreator konten yang kerap membentuk opini publik tanpa tanggung jawab etik yang jelas, hingga praktik media arus utama yang turut mengangkat konten viral tanpa verifikasi memadai. Menanggapi hal itu, Rajab menekankan pentingnya literasi kritis. “Mulai dari diri sendiri. Stop the chain. Skeptis dan analitis,” ujarnya.

 

Budi Setyarso menutup diskusi dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara jurnalis dan kreator konten agar keduanya dapat saling memahami kode etik dan kebutuhan audiens. ”Tanpa mengorbankan prinsip dasar jurnalisme.”

 

Dalam panel kedua bertajuk “Jurnalis, Content Creator, dan Pertarungan Narasi”, diskusi bergeser pada ketegangan antara etika, teknik distribusi digital, dan kepentingan bisnis media. Panel ini menghadirkan Wenseslaus Manggut, Chief Content Officer KapanLagi Youniverse, dan Asmara Wreksono, mantan Redaktur Pelaksana The Jakarta Post yang kini menekuni dunia kreator konten, dengan moderator M. Taufiqurohman.

 



Asmara Wreksono menyoroti pergeseran peran di era ekonomi kreator. Ia membedakan secara tegas antara content creator dan afiliator. Kreator, kata dia, membangun nilai dari kreativitas dan audiens, sedangkan afiliator berfokus pada penjualan dan komisi. “Konten hari ini sering kali menjadi alat distribusi komersial,” ujarnya.

 

Menurut Asmara, teknik distribusi digital, seperti siaran langsung, video berbasis algoritma, dan sistem tautan berbayar, membuat batas antara media, hiburan, dan perdagangan semakin kabur. Persoalannya muncul ketika teknik melampaui etika, misalnya dengan mengeksploitasi isu publik atau figur kontroversial demi mendorong penjualan.

 

“Masalahnya bukan pada jualannya, tapi pada hilangnya sensitivitas konteks,” kata dia. Di titik itu, menurut Asmara, terjadi pertarungan antara efektivitas teknik dan kesadaran etik. Teknik menghasilkan uang dan terukur, tetapi etika menjaga batas dan kredibilitas.

 

Sementara itu, Wenseslaus Manggut mengangkat tema “Jalan Pulang” untuk menggambarkan perubahan lanskap media. Ia menilai disrupsi digital membuat definisi kebutuhan publik bergeser menjadi sekadar kesukaan yang didorong algoritma. “Berita sekarang disetir oleh kesukaan, bukan kebutuhan,” ujarnya.

 

Akibatnya, media kehilangan pembaca langsung karena terlalu sering mengikuti apa yang disukai, bukan apa yang dibutuhkan. Ia menekankan pentingnya kembali pada fungsi dasar jurnalisme: menentukan isi dan arah pemberitaan berdasarkan kepentingan publik.

 

Di tengah masuknya kecerdasan buatan ke ruang redaksi, Wenseslaus mengajak insan media untuk tidak pesimistis. Menurut dia, teknologi dapat menjadi alat bantu, bukan ancaman, selama tetap dikendalikan oleh nilai jurnalistik.

 



Panel terakhir mengambil tema “Model Bisnis dan Masa Depan Media Digital” menghadirkan Dian Gemiano, Chief Marketing Officer KG Media, dan Dodi Ibnu Rusydi, Chief Marketing Officer Info Media Digital, dengan moderator Rachma Tri Widuri.

Dian menilai media telah bergeser dari gatekeeper menjadi sense-maker, membantu publik memahami dunia yang penuh informasi. Ia menyebut tantangan utama sebagai relevance gap, kesenjangan antara laporan formal media dan kebutuhan audiens akan konteks dan kurasi.

Menurut dia, model bisnis media harus berkembang melalui penguatan kekayaan intelektual, acara, riset, hingga layanan terintegrasi. “Media arus utama harus berani masuk ke model premium dan menjauhi konten komoditas,” ujar Gemiano.

 

Sementara itu, CMO Tempo Digital, Dodi Ibnu Rusydi menyoroti hilangnya kendali distribusi di tangan media akibat dominasi algoritma platform global. “Media independen, tapi sekaligus dependen pada platform,” katanya. Ia menilai model berlangganan bukan solusi tunggal karena produk jurnalistik belum menjadi kebutuhan rutin seperti hiburan digital. Diversifikasi pendapatan menjadi keniscayaan.

 

Dalam sesi tanya jawab, Ryan Saputra dari Wawasan Mesir menyoroti kegelisahan pelaku bisnis media dalam menjaga independensi ruang redaksi di tengah tekanan komersial “Bagaimana sebagai pelaku bisnis media merawat independensi di ruang pers, ketika yang rusak justru ekosistem periklanannya? Poin apa saja yang harus dijaga antara kepentingan bisnis, kepercayaan klien, dan kepentingan publik?” ujarnya.

 

Para narasumber menegaskan bahwa reputasi dan kepercayaan publik tetap menjadi fondasi utama. Model bisnis dapat berubah, tetapi kredibilitas tidak boleh dikorbankan demi kepentingan jangka pendek.

 

Moderator Rachma Tri Widuri menutup acara dengan menekankan pentingnya peran akademisi dan publik dalam mendukung keberlangsungan industri media.Di tengah disrupsi dan tekanan algoritma, forum tersebut menjadi refleksi bahwa jurnalisme tetap dibutuhkan sebagai institusi kebenaran, dengan syarat mampu bertransformasi tanpa kehilangan prinsip dasarnya.