Berita & Artikel

Foto Bersama Pembicara dan Peserta Workshop

Program Studi Manajemen Pemasaran Internasional Politeknik Tempo Gelar Workshop “Trik Foto Produk yang Simple tapi Powerfull”: Belajar Memotret, Belajar Membaca Visual


Oleh : Ishani Nurfadilah
14/11/2025
Bagikan :

Politeknik Tempo-Rabu (14/11), ruang kuliah Opini Politeknik Tempo mendadak berubah menjadi tempat yang penuh energi kreatif. Peserta dari anak SMA/SMK dan MA sudah memenuhi ruangan, siap mengikuti workshop bertema “Trik Foto Produk yang Simple tapi Powerfull” yang dibawakan oleh alumnus Program Studi Manajemen Pemasaran Internasional, Abdullah Alfa Ruhma. S.Tr.M.—seorang fotografer produk yang karyanya telah banyak digunakan oleh brand dan pelaku bisnis.


Sejak langkah pertama memasuki ruangan, Alfa langsung membuat suasana hangat dan cair. Tidak ada jarak antara pembicara dan peserta. Dengan gaya penyampaian yang santai namun berbobot, Alfa memulai sesi dengan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: bagaimana ia dulu hanya hobi memotret, hingga akhirnya hobi itu tumbuh menjadi profesi yang ia jalani dengan sepenuh hati.

Alfa berkisah tentang perjalanan panjangnya—dari membuat foto produk sederhana untuk UMKM lokal hingga menangani proyek komersial. Ia berbagi bagaimana konsistensi dan keberanian bereksperimen membuatnya bisa berdiri sejauh ini.

Cerita itu membuat banyak mahasiswa terlihat terinspirasi. Beberapa bahkan tampak membayangkan bagaimana perjalanan mereka kelak.

Masuk ke materi inti, Alfa menekankan satu hal yang menjadi pondasi pemasaran modern: “Visual itu bahasa. Sebelum orang baca tulisan, mereka melihat foto.”

Mengandalkan contoh nyata, Alfa menjelaskan bahwa fotografer produk bukan sekadar membuat foto estetik, tetapi membuat visual yang punya tujuan: menjual, mempengaruhi keputusan, dan membangun kepercayaan konsumen.

Ia memperkenalkan konsep Visual CTA (Call To Action Visual), yaitu cara mengajak konsumen membeli tanpa terlihat memaksa. “Bukan maksa jualan, tapi ngajak lewat visual,” ucapnya yang langsung menempel di kepala peserta.

Untuk memperdalam praktik, Alfa menggelar sesi Mini Challenge, yang membuat seluruh peserta “turun langsung” menjadi fotografer. Meja-meja menjadi studio mini, produk kecil jadi model, cahaya dari jendela jadi spotlight.

Mahasiswa tampak antusias mencoba berbagai teknik: mengatur jarak, menciptakan bayangan, memilih angle yang paling “ngena”. Suasana semakin hidup saat mereka saling memberi masukan dan berdiskusi kecil antar kelompok.

Sesi tanya jawab menjadi salah satu bagian paling berkesan. Seorang peserta dari SMK 9 Jakarta bertanya: “Kalau kamera cuma alat, apa yang bikin fotografer bisa bercerita dengan gambar?”

Alfa menjawab dengan kalimat yang membuat ruangan hening beberapa detik : “Rasa. Kamera itu alat. Tapi mata dan rasa adalah sutradaranya.  Jawaban itu terasa sederhana namun dalam—sebuah pesan yang dibawa pulang oleh seluruh peserta.

Menjelang akhir acara, Alfa memberikan pesan penutup yang merangkum seluruh esensi workshop: “Bangun visual yang kuat, bikin orang percaya, dan jangan berhenti konsisten. Visual adalah bahasa performa brand.”

Setelah tepuk tangan pecah, sesi foto bersama menjadi penutup yang hangat dan penuh canda.

Namun, lebih dari sekadar workshop, kegiatan ini menjadi cerminan bagaimana Program Studi Manajemen Pemasaran Internasional Politeknik Tempo mendesain pengalaman belajar mahasiswa. Tidak hanya teori, tetapi menghadirkan praktisi yang benar-benar hidup di dunia industri.

Program Studi MPI terus mendorong mahasiswa untuk memahami pemasaran secara modern: visual, digital, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Workshop seperti ini adalah bagian dari komitmen prodi untuk mencetak lulusan yang bukan hanya paham strategi pemasaran, tetapi juga mampu memproduksi konten, membaca tren, dan mengeksekusi ide dengan kemampuan nyata.

Di Program Studi MPI Politeknik Tempo, mahasiswa tidak hanya belajar tentang branding dan pemasaran internasional—mereka belajar bagaimana menjadikan kreativitas sebagai nilai, dan menjadikan keterampilan sebagai masa depan.